Tuesday, 5 May 2015

Manusia adalah Binatang yang Berpikir

“Manusia adalah binatang yang dapat berpikir.” Siapa yang ingin disinonimkan dengan binatang? Apakah sekarang sedemikian parahnya perilaku manusia sehingga perlu disinonomkan dengan “binatang”? Siapa yang mengakui bahwa manusia lahir dari proses evolusi? Maka pernyataan ini bisa jadi diterima sepenuhnya tanpa perlu pembantahan lagi. Definisi tentang manusia ini menimbulkan pertanyaan peserta didik ketika mereka membacanya di buku bahasa Indonesia kelas 10 kurikulum 2013. Pernyataan ini baik sekali, karena menuntut peserta didik untuk berpikir secara mendalam. Untuk menjelaskan pernyataan ini, perlu konsep dan definisi. Unsur konstruk paling elementer dalam struktur teori adalah definisi atau batasan atau penjelasan sesuatu konsep.
Fungsi Logis Definisi
fungsi logis dari definisi adalah memberikan batas arti atau makna simbolik dari suatu konsep, sehingga definisi disamaartikan dengan batasan. Konsep manusia perlu diberi batasan sehingga beda dengan konsep hewan atau batu. Pembuatan batasan tersebut pada dasarnya adalah memberikan penjelasan dengan menggunakan simbol lain yang lebih mudah dipahami. Membuat definisi pada dasarnya adalah membuat batasan konsep tunggal. Ketika sejumlah konsep ditata relasinya atau ditata koherensinya atau ditata struktur paradigmanya, maka sejumlah konsep tersebut (yang menjadi konsep ganda, dan mungkin juga konsep kompleks) menjadi pernyataan. Pernyataan tersebut dapat berwujud pendapat, hipotesis, postulat, asumsi, sampai ke struktur teori.
Dalam ilmu pengetahuan definisi biasa diberi sinonim, batasan, atau penjelasan. Disebut penjelasan karena memberikan keterangan agar sesuatu istilah dapat menjadi jelas. Disebut batasan karena memberikan batasan-batasan arti istilah yang dijelaskan. Dalam studi filsafat, definisi dibedakan menjadi tiga besar, yaitu definisi pragmatis, definisi esensialis, dan definisi lingustik.
Definisi Nominalis
Definisi nominalis merupakan penjelasan atas sesuatu istilah dengan menggunakan kata lain yang lebih dikenal. Definisi nominalis setidaknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu definisi sinonim dan definisi etimologis. Pada definisi sinonim, penjelasan diberikan dengan menggunakan persamaan kata atau memberikan penjelasan dengan kata yang lebih dikenal. Contoh: Harimau adalah binatang yang mirip kucing sangat besar.Sedangakan definisi etimologisnya merupakan penjelasan dengan cara mengetengahkan asal-usul istilahnya. Contoh: dalam menjelaskan kata demokrasi. Kata demokrasi berasal dari kata ‘demos’ dan ‘kratos’, demos artinya rakyat, dan kratos yang artinya kekuasaan. Jadi, demokrasi artinya kekuasaan rakyat, atau kekuasaan yang berasal dari, oleh, dan untuk rakyat. Definisi nominalis pada umumnya mudah disusun dengan mencarinya di kamus-kamus. Untuk para pemula dalam dunia ilmu membuat batasan telaah dengan menggunakan definisi nominalis dapat ditolerir. Akan tetapi, bagi para ilmuwan lanjut, penggunaan definisi nominalis menjadi indikator lemahnya pengetahuan yang dimiliki oleh yang bersangkutan, karena biasanya sesuatu istilah itu telah berkembang demikian pesat, sehingga maknanya sudah bergeser jauh. Yang mungkin masih relevan bagi ilmuwan lanjut ini dengan menggunakan penjelasan ensiklopedia historis, ensiklopedia sistematis, atau handbook, juga menurut perkembangan konsep yang berbeda-beda antara para ahli. Perkembangan konsep tersebut dianjurkan didefinisikan dengan menggunakan definisi realis atau definisi praktis.
Definisi Realis
Definisi realis memberikan penjelasan atau batasan berdasar isi yang terkandung dalam konsep yang didefinisikan. Menjelaskan isi dapat dilakukan secara analitik, disebut definisi analitik. Pada definisi ini, isi konsep tersebut diurai menjadi bagian-bagian atau unsur-unsur. Contoh: Manusia adalah makhluk monodualis, memiliki jiwa dan raga yang menyatu. Manajemen merupakan upaya untuk merencanakan, mengarahkan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, serta mengawasi kegiatan sejumlah orang dan barang untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi analitik menjadi definisi konotatif ketika isi konsep tersebut ditata dalam jenisnya dengan sifat pembedanya. Contoh: Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa. Apabila penataan dalam jenis disertakan pula sifat khususnya, maka definisi tersebut menjadi definisi aksi dental. Contoh: Manusia adalah zoon politicion. Aksidental di sini bukan berarti kebetulan, melainkan spesifik, karena hendak menampilkan pemikiran tentang manusia dalam telaah ilmu politik. Antropologi rahasia akan menampilkan manusia sebagai pitecanthropus erectus, sejenis pitecanthropus yang tegak atau berdiri.
Definisi realis yang lebih superfisial adalah definisi deskriptif yang menampakkan isi dari suatu konsep tanpa upaya memilahkan jenis, pembeda yang spesifik, ataupun yang esensial. Apa yang tampak dalam kejadian atau pengenalan umum disebut deskriptor dari konsep tersebut. Contoh: Handphone adalah telepon tanpa kabel yang bisa dibawa ke mana-mana. Definisi yang mendeskripsikan sejumlah konsep dalam tata pikir sebab akibat disebut kausal. Contoh: Awan adalah air karena penyinaran air oleh matahari.
Definisi Praktis
Di samping definisi-definisi tersebut dikenal pula definisi praktis. Tujuan praktis menjadi ciri khas penjelasannya. Definisi yang mementingkan praktis menjadi ciri khas penjelasannya. Definisi yang mementingkan penjelasan kegunaan atau fungsional. Contoh: Termometer adalah alat untuk mengetahui panas badan. Definisi tersebut menjadi definisi konotatif, ketika orang berpikir hendak membedakan antara temperatur tubuh. Barometer adalah alat pengukur temperatur udara. Kegunaan praktis dari suatu definisi dapat pula ditampilkan berwujud definisi operasional. Mungkin operasional dalam makna, agar mudah mendeskripsikan ketika digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya wanita karier adalah wanita yang menjalankan pekerjaan yang memberi efek pada status sosial dan ekonomi pada yang bersangkutan. Mungkin pula dalam makna, menunjukkan cara pengujiannya, misalnya anak jenius adalah anak yang usia integritasnya jauh di atas usia tahunnya, dan jauh di atas rata-rata anak cerdas.
Definisi Paradigmatis
Dengan perkembangan tata pikir mutakhir sekarang ini, seperti berpikir morphogenetis, berpikir divergen, berpikir horizontal. berpikir kreatif, berpikir holografik, dan lain-lain. Selain itu, juga dengan tata pikir cukup kompleks, baik pada tataran teoritik moral cultural, moraltransenden, dan juga munculnya tata pikir kompleks yang operasional pragmatik, maka tampaknya perlu dikenakan klaster keempat dari definisi, yaitu definisi paradigmatis. Konstruk konsep yang diketengahkan tidak seluruhnya dapat ditata analitik hierarki, tidak seluruhnya ditata linier. Misalnya, konflik menurut Dahrendorf adalah pertentangan yang dapat berfungsi positif;dapat pula negatif, dapat menjadi in-gorup atau out-group. Dapat individual ataupun institusional. Dalam definisi konflik, menurut Dahrendorf terkandung banyak konsep;konsep politik, konsep konflik, konsep fungsi positif dan negatif, konsep in-group, konsep proses pada latar individual, dan konsep latar institusional. Ramuan konsep-konsep tersebut tidak seluruhnya linier, ada unsur-unsur teoritis, ideologis, tetapi juga pragmatis. Karena, Noeng Muhadjir menawarkan suatu klaster definisi lagi, yaitu definisi pradigmatis.
“Manusia adalah binatang…” bebas dikonstruksi dengan pemahaman ilmu pengetahuan. Sepintas manusia disamakan dengan binatang, tetapi binatang yang dapat berpikir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Definisi” berarti kata, frasa, atau kalimat yg mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; batasan (arti). Manusia adalah “binatang”. Kalimat definisi ini mengungkapkan makna bahwa manusia memiliki persamaan (sinonim) dengan binatang (mempunyai ciri-ciri yang sama) atau proses penciptaan manusia berhubungan dengan proses penciptaan binatang. Pengertian manusia menurut KBBI adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain), sedangkan binatang adalah makhluk bernyawa yg mampu bergerak (berpindah tempat) dan mampu bereaksi terhadap rangsangan, tetapi tidak berakal budi.
Seandainya “Manusia adalah binatang yang berpikir” diambil dari teori Darwin sebagai proses evolusi manusia. Tentu saja, kebenaran definisi ini tidak bisa di terima kebenarannya oleh semua orang. Walaupun ada kesamaan 98% antara struktur genetik munusia dan primata (merujuk pada binatang). Kebenaran ilmiah harus melewati proses yang sangat panjang. Pandangan Darwinian mngenai Evolusi adalah benar scara ilmiah, sebab memang ada kesamaan hingga 98% antara struktur kode genetik pada manusia dan primata. Namun hasil penyelidikan itu hanya menunjukkan bahwa 2% gen manusia berbeda secara kualitatif dan signifikan daripada gen hewan. Selisih kecil ini justru membuat perbedaan raksasa antara manusia dengan hewan. Maka berhadapan dengan teori darwin, Iman atau kepercayaan tidak perlu merasa dirugikan apabila sains menempatkan manusia pada puncak evolusi binatang bukan manusia.
“Manusia adalah binatang” justru membuka mata kita terhadap fenomena alam dan sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia yang melibatkan manusia sebagai pelaku kekerasan, pembantaian, dan tindakan-tindakan lain yang diluar nalar. Berbagai kasus yang melibatkan siswa, guru, politikus, tokoh masyarakat, bahkan ustadz yang berkelakuan keji. Masih banyak lagi perilaku manusia di zaman modernisasi ini yang tak sepantasnya dilakukan oleh manusia. Apakah kita sebagai manusia benar-benar telah bertindak dan berprilaku seperti manusia yang berakal dan berperikemanusiaan? Ada baiknya kita kembali kepada Sang Pencipta yang memberikan kita nafas dan nyawa untuk hidup di muka bumi ini agar taat kepada-Nya. Jika tidak apakah kita memang pantas disebut manusia?
sumber pustaka: Susanto,A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta:Bumi Aksara.
😜ye